Turki Mungkin Tangguhkan Hubungan dengan UEA, Pentagon Bentuk Satgas UFO

Jakarta

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, melontarkan kemungkinan bagi Turki untuk menangguhkan hubungan dengan Uni Emirat Arab (UEA) setelah disepakatinya perjanjian dengan Israel. Pentagon membentuk sebuah satgas baru khusus untuk menyelidiki penampakan UFO.

Erdogan memberikan reaksi keras terhadap perjanjian damai antara UEA dan Israel, yang mengatur normalisasi hubungan diplomatik keduanya. Erdogan menyatakan bahwa Turki bisa saja menangguhkan hubungan diplomatik dengan UEA atau menarik Duta Besar Turki di negara itu.

Di Amerika Serikat (AS), Departemen Pertahanan atau Pentagon mengumumkan pembentukan sebuah satuan tugas (satgas) baru yang bertugas secara khusus untuk menyelidiki penampakan objek terbang tak teridentifikasi atau UFO. Satgas itu masih berada di bawah Angkatan Laut AS atau US Navy.

Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Sabtu (15/8/2020):

– AS Sita 4 Kapal Tanker Bawa Muatan Bahan Bakar dari Iran untuk Venezuela

Otoritas Amerika Serikat (AS) menyatakan telah menyita empat kapal tanker yang membawa muatan bahan bakar dari Iran untuk Venezuela. Penyitaan dilakukan karena pengiriman bahan bakar ini melanggar sanksi-sanksi yang diterapkan AS terhadap Iran dan Venezuela.

Seperti dilansir Reuters, Sabtu (15/8/2020), Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Iran tidak seharusnya mengirimkan kargo ke Venezuela. Trump menyebut bahwa muatan bahan bakar yang disita kini tengah berlayar menuju Houston, Texas, yang merupakan pusat pengiriman minyak utama AS.

Departemen Kehakiman AS menyatakan bahwa muatan bahan bakar yang disita itu berada dalam penahanan AS ‘dengan bantuan mitra asing’. Total muatan empat kapal tanker yang disita disebut mencapai 1.116 juta barel bahan bakar, yang tercatat sebagai muatan bahan bakar asal Iran terbesar yang pernah disita AS.

– Oman, Bahrain dan Yordania Dukung Perjanjian Damai UEA-Israel

Dukungan untuk perjanjian damai antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Israel datang dari tiga negara Arab, yakni Oman, Bahrain dan Yordania. Ketiga negara itu menyambut baik perjanjian yang mengatur normalisasi hubungan antara UEA dan Israel.

Seperti dilansir Reuters dan kantor berita Anadolu, Sabtu (15/8/2020), otoritas Oman menyatakan dukungan atas keputusan UEA untuk menormalisasi hubungan dengan Israel. Oman mengharapkan perjanjian itu bisa berkontribusi pada perdamaian yang menyeluruh, adil dan berkelanjutan di Timur Tengah.

Otoritas Bahrain dalam pernyataannya menyebut perjanjian damai antara UEA dan Israel itu meningkatkan kesempatan bagi terwujudnya perdamaian di kawasan Timur Tengah. Bahrain bahkan memuji Amerika Serikat (AS) — sebagai penengah dalam perjanjian ini — untuk upayanya mewujudkan kesepakatan UEA dan Israel.

Sementara itu, otoritas Yordania yang juga memberikan sambutan baik, menyebut bahwa perjanjian itu bisa memiliki dampak bermanfaat jika mendorong Israel untuk menerima negara Palestina yang berdiri di wilayah yang diduduki sejak Perang Timur Tengah tahun 1967 silam.