Tengku Arab Saudi Wafat, China Senang Jika Trump Menang Pilpres AS

Jakarta

Otoritas Arab Saudi mengumumkan kematian Pangeran Nawaf bin Saad bin Saud bin Abdulaziz Al-Saud. Kabar duka ini disampaikan oleh kantor berita negara SPA.

Dilansir Arab News, Rabu (21/10/2020) SPA melaporkan kalau doa pemakaman diadakan pada keadaan Selasa (20/10) di ibu kota Kerajaan, Riyadh. Tidak dijelaskan soal penyebab wafatnya sang pangeran.

Sementara itu, Raja Yordania Abdullah menyampaikan belasungkawa kepada Indra Salman, keluarga kerajaan dan rakyat Arab Saudi, demikian kantor berita negara Petra melaporkan.

Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom , keadaan ini, Rabu (21/10/2020):

– AS Perluas Aliansi untuk Hadapi Rusia-China, Indonesia Diperlukan

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Mark Esper mengungkapkan inisiatif baru untuk memperkuat dan memperluas aliansi AS. Yakni dengan “demokrasi yang berpikiran sama” buat melawan Rusia dan China.

Dilansir AFP, Rabu (21/10/2020) Esper mengatakan Pentagon akan dengan sistematis memantau dan mengelola hubungannya dengan negara-negara mitra, yang bertujuan untuk menemukan cara guna menyelaraskan militer dan juga untuk mengutarakan penjualan senjata AS.

Inisiatif, yang disebut Panduan untuk Pembangunan Aliansi dan Kemitraan (GDAP) tersebut, disampaikan hanya dua minggu sebelum pemilihan presiden AS yang mana–jika Presiden Donald Trump kalah–Esper bisa diganti pada bulan Januari.

– Guru Prancis Dipenggal, Macron Desak Putin Tingkatkan Kerjasama Antiteror

Presiden Prancis Emmanuel Macron mendesak Presiden Rusia Vladimir Putin untuk meningkatkan kerja sama bertugas memerangi terorisme dan imigran gelap. Hal ini disampaikan Macron menyusul pemenggalan seorang guru Prancis sebab seorang pemuda dari wilayah Chechnya, Rusia yang didominasi warga muslim.

Sementara itu, Putin menyatakan belasungkawa atas pemenggalan mengerikan terhadap guru Samuel Paty dalam dekat sekolah tempat dia berlaku di pinggiran barat laut Paris tersebut. Kantor kepresidenan Rusia ataupun Kremlin mengatakan bahwa Putin membicarakan peristiwa itu sebagai “pembunuhan biadab”.