Non-Muslim Bebas Keluar-Masuk di Kampung Muslim

Promo menarik pada undian Data Sidney 2020 – 2021.

Jakarta – Semenjak masa Nabi, sahabat, serta generasi sesudahnya, hingga saat ini, selain Tanah Haram (Mekkah), warga non-muslim bebas lalu-lalang di negeri-negeri muslim. Bahkan warga non-muslim bisa diberi hak untuk tinggal di negeri muslim dengan bermacam-macam jaminan keamanan.

Nabi selalu mencontohkan bagaimana tumbuh apresiasinya terhadap warga non-muslim yang tinggal di daerah muslim. Nabi sangat kasar dalam hal ini, sama dengan dapat dilihat dalam perkataan shahih yang diriwayatkan oleh Safwan ibn Sulaiman, kalau Nabi pernah bersabda: “Barang siapa yang mendhalimi orang-orang yang menjalin perjanjian damai (mu’ahhad) atau melecehkan itu, atau membebaninya sesuatu pada luar kesanggupannya, atau mengambil hartanya tanpa persetujuannya, maka saya akan menjadi lawannya nanti di hari kemudian” (HR. Bukhari-Muslim).

Sejarah mencatat bagaimana warga non-muslim bisa berinteraksi secara saudara-saudaranya yang muslim di berbagai bidang. Mereka mampu melakukan interaksi bisnis mulia sama lain sebagaimana dilakukan kelompok Yahudi dan Nashrani di Madina. Warga non-muslim di masa Nabi tak pernah merasa warga status dua.

Itu bisa menjumpai Nabi serta keluarganya kapan pun serta di manapun. Nabi tidak pernah menggeneralisir para masyarakat non-muslim yang sering menyerbu Nabi dengan warga non-muslim yang menjalin perjanjian damai dan hidup terlindungi dalam otoritas wilayah muslim.

Suatu ketika Nabi menerima delegasi non-muslim yang terdiri atas tokoh-tokoh lintas agama berjumlah 60 orang, 14 orang di antaranya dari kelompok Kristen Najran. Rombongan tamu dipimpin sebab Abdul Masih. Rombongan tersebut diterima di Mesjid secara penuh persahabatan. Bahkan patuh Muhammad ibn Ja’far ibn al-Zubair, sebagaimana dikutip Abdul Muqsith dalam kitab “Al-Shirat al-Nabawiyyah”, karya Ibn Hisyam, Juz II, h. 426-428, ketika waktu kebaktian tiba, maka rombongan tamu Nabi ini melakukan kebaktian dalam dalam mesjid dengan menghadap ke arah timur.

Ia tidak selektif tamu berdasarkan kelas serta status sosial. Luar umum riwayat ini. Ini sekaligus membuktikan bahwa Nabi pantas dikagumi oleh semua orang tanpa membedakan agama, suku, dan golongan. Pantas kalau ia dinobatkan sebagai Status Utama dari 100 tipu terkemuka yang pernah dilahirkan di muka bui ini oleh Michael Hart, ataupun Tokoh Utama di antara 11 Tokoh yang pernah jadi di muka bumi tersebut oleh Thomas Carlile.

Yang paling penting bagi kita semua bagaimana kearifan nabi ini mampu diikuti oleh semua bagian. Nabi Muhammad saw, tokoh yang sering disebut tumbuh jauh melampaui kurun waktunya ini betul-betul menarik buat dikaji. Kebijakan-kebijakan dan statmen-statmennya selalu tepat untuk seluruh orang dan dan pada setiap waktu. Nabi hampir-hampir tidak pernah ada orang yang tersinggung pada setiap kebijakan dan statmennya. Kita tentu merindukan sosok karakter seperti ini.

Non-muslim sebetulnya tidak menetapkan terlalu khawatir dengan Islam, apalagi dengan memunculkan kata Islam Phobia. Islam bukan agama yang menakutkan. Islam, sesuai dengan namanya sendiri berarti damai, tidak pernah dimaksudkan untuk menakut-nakuti karakter. Segala hal yang membuahkan kesengsaraan, kesedihan, dan kesusahan pasti itu tidak bahasa dengan Islam bahkan mampu disebut sebagai musuh Agama islam. Musuh kemanusiaan adalah juga musuh Islam.

Prof. Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta

*Artikel ini ialah kiriman pembaca detikcom. Segenap isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. –Terimakasih (Redaksi)– (erd/erd)