Memberi Hak-hak Sosial

Info seputar HK Prize 2020 – 2021.

Jakarta : Nabi bukan hanya melindungi dan memberikan hak-hak politik kepada umat non-muslim tetapi juga hak-hak sosial. Hak-hak sosial dimaksud antara lain, memberi hak-hak yang sama dengan umat islam memanfaatkan fasilitas umum, seperti penggunaan jalan raya, akses mata air, pengobatan, bantuan sosial, mengunjungi mereka ketika sedang sakit, mengurus jenazah mereka, sampai kepada memandikan mayatnya.

Anas ibn malik meriwayatkan ada seorang laki-laki yahudi sedang sakit keras lalu Nabi diberitahukan akan keadaan itu. Selanjutnya Nabi membesuknya dan duduk di samping pemuda tersebut. Nabi menawarkan seandainya pemuda itu berkenan untuk mengenal dan masuk agama Islam. Pemuda itu menatap ayahnya yang kebetulan ada pada sampingnya. Ayahnya menyarankan agar anaknya mendengarkan seruan tersebut dengan mengtakan: Dengarkanlah apa yang disampaikan oleh Abul qasim (Nabi), lalu pemuda itu mengucapkan dua kalimat syahadat. (HR. Bukhari). Betapa mulianya perbuatan Nabi menengok orang sakit umat beragama lain dan berusaha membantu meringankan bebannya. Tradisi misalnya ini diwariskan kepada para sahabatnya.

Dalam kesempatan lain, ketika paman nabi meninggal, yaitu Abu Thalib, yang sampai akhir hayatnya belum mengucapkan syahadat, maka nabi memerintahkan putranya, yaitu Ali ibn Abi Thalib, untuk mengurus jenazah ayahnya sampai pada penguburannya dengan baik. Pengalaman ini menjadi pelajaran buat anda semua bahwa mengurus mayat hukumnya wajib apapun agama mayat itu. Dalam kitab-kitab Fikih juga banyak disebutkan riwayat bahwa manakala ada mayat hanyut di sungai tidak ada yang mendamparkannya maka berdosa massal seluruh penghuni desa yang dilaluinya, karena mengurus jenazah apapun agama dan kepercayaanya wajib hukumnya, karena mayat tersebut hak Allah swt.

Pemberian hak-hak sosial kepada segenap warga sama sekali tanpa terkecuali sejalan dengan apa yang difirmankan Allah dalam al-Qur’an:
“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah sebatas melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama lalu mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang lalim. ” (Q. S. al-Mumtahinah/60: 8-9).

Ancaman Allah Swt bagi orang yg melecehkan hak-hak sosial orang-orang non-muslim ialah dianggap orang-orang yang lalim (al-dhalimun). Banyak lagi pengalaman Nabi serta para sahabat yang memberikan hak-hak sosial dan hak-hak politik terhadap orang-orang non-muslim. Dengan demikian, berbuat benar kepada sesama warga dengan tidak membedakan agama dan kepercayaan merupakan sunnah Rasul yang harus dipertahankan, khususnya kita sebagai Warga Negara Indonesia.

Prof. Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta

*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penyusun. –Terimakasih (Redaksi)– (erd/erd) (erd/erd)