Ali Imron, Polisi Tak Usik Ulama Kecuali Lakukan Kejahatan

Info seputar HK Hari Ini 2020 – 2021.

Jakarta – Narapidana peristiwa terorisme Bom Bali I, Ali Imron menegaskan negara kepolisian tidak akan sudah mengusik para ustaz, dai, dan ulama bila dasar tidak melakukan tindak kejahatan. Ia mencontohkan, dirinya ditangkap, diadili, dan mendekam dalam penjara selama 18 tarikh ini karena melakukan pengeboman di Bali pada Oktober 2002.

“Kita jadi ustaz tidak pernah diusik polisi, bahkan ketika ana membantu jihad di Ambon dan Poso, ” cakap Ali Imron dalam agenda Blak-blakan yang tayang dalam detikcom, Senin (5/4/2021).

Ia merasa perlu kembali mengungkapkan hal itu sebab masih ada suara-suara yang menyatakan polisi memenjarakan dirinya karena profesinya jadi ustaz dan pernah berjihad di Ambon, Poso, bahkan sebelumnya ke Afghanistan. Karena itu kemudian muncul aksi-aksi teror dengan sasaran polisi dan kantor polisi sebagai tindak balasan.

“Itu ngawur. Ngapain penjaga kita jadikan sasaran. Jika ndak mau ditangkap, sungguh ndak usah neko-neko, ” kata Ali Imron.

Sebagai orang dengan pertama kali melakukan teror bom di Indonesia, dia mengaku sangat menyesal. Ali Imron meratapi aksinya pada Bali pada 12 Oktober 2002 karena dianggap sudah menginspirasi berbagai teror kemudian.

“Saya merasa bersalah setiap kejadian bom di Indonesia. Karena saya salah satu dengan mengobarkan semangat melakukan gerak-gerik jihad yang kami niatkan pada waktu itu, ” sesalnya.

Sebelum meledakkan bom di Bali yang menewaskan lebih dari 200 jiwa dia mengiakan pernah melakukan pemboman dalam gereja-gereja. Tapi bom yang dirakit sengaja berkekuatan mungil dan diletakkan di ruang kosong. Sebab peledakan peledak lebih dimaksudkan sebagai rujukan terhadap kaum non muslim terkait konflik Ambon & Poso.

“Jadi, ketika saya lihat jemaahnya ternyata banyak perempuan & anak-anak, ya bom diletakkan di ruangan kosong biar nggak banyak korban, ” kata Ali Imron.

Dia juga mengecam keras aksi teror yang dalam beberapa tahun terakhir ini dilakukan dengan membawabawa perempuan dan anak-anak. Padahal tak ada satu ustazah pun yang membolehkan gerak laku jihad bersama perempuan, isteri dan anak-anak.

“Kalau dalam jihad yang benar, justeru perempuan, anak-anak, dan orang tua dan lemah itu ada wadah perlindungan sendiri. Jadi mereka itu pakai adab ataupun fiqih jihad apa?, ” ujarnya. (deg/eva)